Minggu, 27 Oktober 2013

Tulisan 2

Kisah tentang Pekerja Kantoran yang Pindah Kuadran menjadi Juragan -

Kisah ini dimulai dari kehidupan anak muda bernama Adhika Dirgantara (sebuah nama yang keren). Ia lulusan sarjana ilmu informatika dari Binus (Universitas Bina Nusantara). Dulunya ia bekerja di bagian IT perusahaan Pfizer, sebuah perusahaan farmasi tenar berskala global. Gajinya juga ndak jelek-jelek amat, 5 juta per bulan.
Namun ia merasa, ritual pergi pulang bekerja sungguh meletihkan. Kantornya di Sudirman Jakarta, sementara ia tinggal di Bekasi. Setiap pagi ia berangkat kerja naik sepeda motor : menembus lautan kemacetan yang setiap saat menghadang selama 1,5 jam. Pulangnya juga sami mawon. Wah kalau begini, saya bisa tua dijalan dong, begitu ia membatin.
Bekerja di perusahaan besar yang penuh dengan birokrasi juga membuat ia merasa tak bisa bebas berkreasi. Terlalu banyak aturan dan hirarki. Ia juga cuma pekerja kelas rendahan. Ia jadi merasa sekedar sekrup dari perusahaan tempatnya bekerja. Sekedar menjadi sekrup dari mesin kapitalisme global yang terus menderu.
Kalau hidup kayak gitu terus, kok rasanya ndak asyik ya. Begitu ia kembali membatin. Kayak sayur lodeh tanpa garam. Hambar begitu. Hmm.
Begitulah pada usia 25 tahun, setelah tiga tahun menjadi pekerja kantoran, ia memutuskan untuk resign. Resign gitu lho (hayo siapa yang mau ikutan resign, ngacung).
Dengan bekal tabungannya, ia langsung buka usaha dibidang konsultan IT (sebuah pilihan yang lumayan pas dengan keahliannya). Namun ternyata ia hanya bisa dapat satu klien dengan nilai projek sekitar 30-an juta. Setelah itu NOL besar. Ndak ada lagi order masuk.
Pelan-pelan usaha konsultannya itu bangkrut. Kenapa? Sebab ia tidak memiliki keahlian untuk MENJUAL kepada calon klien (catatan : ini banyak terjadi pada teman saya yang juga ingin buka usaha menjadi konsultan manajemen. Dikira mencari klien itu gampang. Emang klien dari Hongkong).
Adhika lalu banting setir. Dengan modal tabungannya yang tersisa ia kemudian membuka bisnis toko tinta isi ulang. Ruko sudah disewa. Barang-barang sudah dipajang. Brosur promosi sudah disebar. Toh ternyata usaha ini hanya berjalan 6 bulan, dan lalu bangkrut lagi. Pembelinya sepi (hasil evaluasi menunjukkan lokasi ruko yang tidak strategis, terlalu sempit sehingga terkesan tidak bonafid, dan kalah dengan pesaing yang ada di jalan yang sama, dengan toko yang lebih megah).
Dua kali gagal. Hmm. Tabungan makin tipis. Hmm. Orangtuanya juga mulai panik. Hmm. (iih, kok ehm-ehm terus sih).
Ditengah-tengah situasi yang kepepet itulah, mendadak muncul “eureka momment” : aha, saya kan bisa bikin website, dan saya kan asli Pekalongan yang jago bikin batik (the power of kepepet itu ternyata ampuh juga ya).
Begitulah, ia lalu memadukan dua elemen vital itu yakni : kemampuan membikin website dan jaringan kenalannya dengan para juragan batik Pekalongan, untuk membuka bisnis online jualan batik. Lalu abrakadabra : lahirlah online store batik paling keren se Indonesia.
Alhamdulilah, karena keahliannya dalam internet marketing, dan akses yang luas akan produk-produk batik yang bagus dengan harga relatif murah, ia bisa membuat bisnis yang ketiganya ini SUKSES. Omzetnya sudah besar. Dan bahkan ia kini juga melebarkan bisnis online-nya untuk berjualan emas batangan (alhamdulilah, sukses juga).
Ada tiga pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisahnya. Pertama, makin muda usia ketika Anda memulai usaha, makin bagus. Anda jadi punya cadangan waktu yang agak panjang ketika harus menghadapi kegagalan demi kegagalan (Adhika memutuskan resign dan memulai bisnis sendiri di usia 25 tahun, usia yang tergolong masih belia).
Kedua, kegagalan adalah sebuah lelakon yang kudu dijemput tanpa rasa takut berlebihan. Jika Anda berani sukses, mestinya juga harus berani gagal. Adhika mengalami dua kali kegagalan, dan ia tetap terus jalan (dan bukan ragu lalu kembali lagi menjadi karyawan. Kembali menjadi sekrup).
Ketiga, mimpi yang mau dijahit itu harus terus dikibarkan : mimpi menjadi juragan sukses. Adhika bilang, tanpa mimpi itu mungkin ia mudah menyerah kalah. “Impian yang berkibar-kibar itu yang membuat saya bisa terus bersemangat menjalani semua tantangan”.
Ia mengucapkan kalimat itu di hadapan saya dengan penuh keyakinan. Saya kemudian hanya bisa memeluknya erat-erat. Sebagai kakak kandungnya, saya cuman bisa merasa bangga.


http://strategimanajemen.net/2012/03/12/kisah-tentang-pekerja-kantoran-yang-pindah-kuadran-menjadi-juragan/#sthash.XRmQuH8j.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar