Kamis, 06 Juni 2013

Hubungan Interpersonal


HUBUNGAN INTERPERSONAL

            Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik, kegagalan komunikasi sekunder terjadi bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikasi menjadi rusak. “ komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting,” tulis Anita Taylor et al.(1977:187). “Banyak penyebab dari rintangan komunikasi berakibat kecil saja bila ada hubungan baik di antara komunikan. Sebaliknya, pesan yang paling jelas, paling tegas, paling cermat tidak dapat menghindari kegagalan, jika terjadi hubungan yang jelek.”Pandangan bahwa komunikasi mendefinisikan hubungan interpersonal telah dikemukakan Ruesch dan Bateson (1951) pada tahun 1950-an. Gagasan ini dipopulerkan di kalangan komunikasi oleh Watzlawick, Beavin, dan Jackson(1967) dengan buku mereka Pragmatics of Human Communication. psikolog pun mulai menaruh minat yang besar pada hubungan interpersonal seperti tampak pada tulisan Fordon W.Allport (1960), Erich Fromm (1962), Martin Buber (1957), Carl Rogers (1951). Semua mewakili mazhab psikologi humanistic. Belakangan Arnold P.Goldstein (1975) mengembangkan apa yang disebut sebagai “relationship-enchancement methods” (metode peningkatan hubungan) dalam psikoterapi. Lame rumuskan metode ini tiga prinsip : makin baik hubungan interpersonal, (1) makin terbuka pasien mengungkapkan perasaannya, (2) makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam beserta penolongnya (psikolog), dan (3) makin cenderung ia mendengar dengan penuh perhatian dan bertindak atas nasihat yang diberikan penolongnya.
           
A.    MODEL-MODEL HUBUNGAN ITERPERSONAL
Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
1.       Model pertukaran sosial (social exchange model)

Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).

2.       Model peranan (role model)

Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.

3.       Model permainan (games people play model)

Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan). Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).

4.       Model Interaksional (interacsional model)

Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.

B.     Memulai hubungan

Adapun tahap-tahap dalam hubungan interpersonal yakni meliputi :

1.       Pembentukan.
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu:
a.       informasi demografis
b.      sikap dan pendapat (tentang orang atau objek).
c.       rencana yang akan datang.
d.       kepribadian.
e.       perilaku pada masa lalu.
f.       orang lain serta,
g.      hobi dan minat.

2.       Peneguhan Hubungan.
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu:

A.Keakraban (pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).

B. Kontrol (kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang lebih dominan didalam komunikasi tersebut).

C.  Respon yang tepat (feedback atau umpan balik yang akan terima jangan sampai komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu memberikan feedback yang tepat).

D.Nada emosional yang tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang berlangsung).


C. Intimasi dan hubungan pribadi

Pendapat beberapa ahli mengenai intimasi, di antara lain yaitu :
a)     Shadily dan Echols (1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan.
b)     Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.
c)      Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
d)     Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
e)     Atwater (1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada suatu
hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang
diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan
pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang
terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna
untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan
yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan
membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk
merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).

Dalam suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di dalam suatu hubungan atau mungkin hanya salah satu di antara ketiganya itu di dalam suatu hubungan maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak akan berjalan dengan langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap pasangan tidak merasakan kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga yang terjadi adalah hubungan tersebut bubar dan tidak akan ada lagi harapan untuk membangun hubungan yang harmonis dan langgeng.

Komunikasi yang selalu terjaga, kepercayaan, kejujuran dan saling terbuka pun menjadi modal yang cukup untuk membina hubungan yang harmonis. Maka jangan kaget apabila komunikasi kita dengan pasangan tidak berjalan dengan mulus atau selalu terjaga bisa jadi hubungan kita akan terancam bubar atau hancur. Tentu saja itu akan menyakitkan hati kita dan setiap pasangan di dunia ini pun tidak pernah menginginkan hal berikut.


D. Intimasi dan pertumbuhan

Apapun alasan untuk berpacaran, untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita.

Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban. Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat disebabkan karena :

(1) kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita secara utuh.

(2) kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan memasuki pernikahan.

(3) kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang dapat dipercaya untuk memegang rahasia.

(4) kita dibentuk menjadi orang yang berkepribadian tertutup.
(5) kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus .


  DAFTAR PUSTAKA:

 Wirawan, Sarlito S. 2002. Individu dan teori-teori psikologi social. Jakarta: Balai Pustaka
Dayakisni, Tri. 2006. Psikologi social. Edisi revisi. Malang : Universitas Muhamadiyah Aronson ,Elliot .(2005).social psychology .upper saddle river :person prentice hall
 Hall, S Calvin., Lindzey , Gardner., (2009). teori - teori psikodinamika, yogyakarta:kanisius
 Jalaluddin Rakhmat (1998): Psikologi Komunikasi, Edisi 12, PT Remaja Rosdakarya Offset,   Bandung.

Nama : Ajeng Cintiya Yudhasara
Kelas : 2PA02
NPM : 10511488


Artikel Cinta dan Perkawinan


Derita Seorang Janda

Sungguh sangat menyedihkan kisah perjalanan seorang manusia, sebut saja Novi. Seorang janda muda dengan dua anak laki-laki yang masih kecil yaitu SD kelas 4 dan kelas 3. Usianya masih belum genap 40 tahun namun perjalanan hidupnya harus berakhir dengan perceraian. Bukan hanya perceraian yang menjadi persoalan namun kisah perjalanan hidupnya yang sangat menyedihkan.Novi seorang gadis yang agak pendiam, wajahnya lumayan manis, namun saking pendiamnya sehingga dia tidak memiliki teman pria. Usianya sudah di atas 25 tahun, biasanya seorang ibu pasti menanyakan apakah sudah punya teman pria yang bisa dikenalkan dengan keluarganya atau belum. Nah mungkin karena Novi belum punya teman pria akhirnya orang tuanya menjodohkan Novi dengan pria duda tanpa anak yang sudah memiliki pekerjaan tetap di sebuah BUMN.Pernikahan yang sederhana telah digelar, duda yang siap menjadi pendamping hidupnya berbeda usia sekitar 15 tahun-an. Namun karena duda tanpa anak dan kebetulan memang memiliki baby face maka perbedaan usia tidaklah begitu nampak. Kebahagiaan mereka begitu lengkap ketika kelahiran putra pertama. Lalu belum genap dua tahun lahirlah putra kedua. Bagi mereka dua anak sudah cukup mengingat usia ayahnya sudah kepala empat.Perjalanan rumah tangga mereka sangat harmonis, hampir setiap pagi sebut saja Pak Wawan meyempatkan diri momong putranya jalan-jalan pagi sebelum berangkat kerja. Sementara Bu Wawan menyiapkan sarapan pagi buat keluarga tercinta.Lama tak terdengar kabarnya, pada saat menghadiri pernikahan di sebuah gedung bu Wawan menghampiri saya.“Bu, mohon maaf saya belum pamit sama Ibu. Suami sudah purna tugas, saya dan anak-anak tinggal di desa sebelah. Dua bulan setelah memasuki masa purna tugas, saya dan suami resmi bercerai. Kami bercerai baik-baik karena ada masalah yang tidak bisa saya ceritakan. Suami masih memberi nafkah buat anak-anak karena anak-anak masih ikut saya. Kegiatan saya sekarang menerima jahitan baju untuk menyambung hidup. Mantan suami saya kembali ke rumah orang tuanya di kota lain.”Subhanallah Bu Wawan cerita tanpa air mata, begitu tegar dia menghadapi masalah sendiri. Padahal biasanya jika ada masalah dalam rumah tangga, pasti seorang ibu tidak bisa menyimpan sendirian.Beberapa hari yang lalu ayah dari Bu Wawan telah berpulang ke rahmatullah, seperti biasa kami ta’ziyah berbela sungkawa ke rumahnya. Dalam keadaan berduka cita Bu Wawan menyampaikan permohonan maaf dan pamit mau pindah ke Surabaya ke rumah orang tuanya. Kami semua saling berpandangan penuh tanda tanya. Dengan sangat hati-hati seorang teman di antara kami memberanikan diri bertanya, “Lho kenapa pindah Surabaya?… Rumah ini kan baru ditempati belum genap setahun. Berarti sekolah anak-anak juga pindah …”” Iya Bu, kami sudah berupaya namun memang harus demikian perjalanan hidup saya. Dua tahun menjelang purna tugas, suami saya sering komunikasi dengan mantan istrinya. Saya tidak tahu persis sejauh mana hubungan mereka. Toh akhirnya kami tidak bisa mempertahankan rumah tangga kami, akhirnya kami berpisah secara baik-baik. Lalu tidak lebih dari enam bulan semua berjalan lancar. Saya dan anak-anak menempati rumah yang kami bangun sebelum masa pensiun, saya menerima jahitan baju, sementara suami memilih pulang ke rumah orang tuanya. Setelah orang tua saya meninggal dua minggu yang lalu, kami membuat keputusan baru. Suami dan anak-anak akan menempati rumah ini, saya yang akan kembali ke rumah orang tua saya. Saya dulu datang tidak membawa apa-apa dan akan kembali kepada orang tua seperti semula. Anak-anak saya biarkan ikut ayahnya agar tetap bisa melanjutkan sekolahnya. Ada kabar ayahnya anak-anak akan kembali pada mantan istrinya yang dulu … entahlah, biarkan Allah yang memilihkan jalan yang terbaik untuk saya,” Bu Wawan mengakhiri ceritanya.
A.Bagaimana Memilih Pasangan
            Dalam kisah d atas di jelaskan pada kalimat “Usianya sudah di atas 25 tahun, biasanya seorang ibu pasti menanyakan apakah sudah punya teman pria yang bisa dikenalkan dengan keluarganya atau belum. Nah mungkin karena Novi belum punya teman pria akhirnya orang tuanya menjodohkan Novi dengan pria duda tanpa anak yang sudah memiliki pekerjaan tetap di sebuah BUMN.”.Hal ini berarti pernikahan ini terjadi karena adanya perjodohan yakni orang tua ibu dari gadis tersebut menjodohkanya dengan pria duda.
B.Seluk Buluk Dalam Perkawinan
            Seluk buluk dalam pernikahan tersebut terletak pada sisi perjodohan dari pernikahan pasangan tersebut karena kepolosan anak gadis tersebut maka gadis tersebut belum memiliki teman dekat pria sedangkan umurnya sudah melebihi 25 tahun,karena memikirkan anaknya ibu gadis tersebut pun menjodohkanya dengan seorang duda yang usianya 15 tahun lebih tua dari gadis tersebut namun belum dikaruniai seorang anak.Karena gadis tersebut tidak mempunyai alasan untuk menolaknya maka gadis tersebut pun mengikuti kemauan ibunya untuk dijodohkn dengan pria duda tersebut.
C.Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
            Memang duda tersebut berbeda 15 tahun dengan gadis tersebut namun karena duda tanpa anak dan kebetulan memang memiliki baby face maka perbedaan usia tidaklah begitu nampak. Kebahagiaan mereka begitu lengkap ketika kelahiran putra pertama. Lalu belum genap dua tahun lahirlah putra kedua. Bagi mereka dua anak sudah cukup mengingat usia ayahnya sudah kepala empat.Perjalanan rumah tangga mereka sangat harmonis, hampir setiap pagi sebut saja Pak Wawan meyempatkan diri momong putranya jalan-jalan pagi sebelum berangkat kerja. Sementara Bu Wawan menyiapkan sarapan pagi buat keluarga tercinta.
D.Perceraian dan Pernikahan kembali
            Dalam artikel tersebut dijelaskan tak lama setelah 2 bulan masa purna pasangan tersebut akhirnya bercerai.Tidak ada yang mengetahui alasan mengapa pasangan tersebut bercerai.Namun saat dalam keadaan berduka dia baru menceritakan bahwa penyebab perceraianya dengan suaminya adalah karena suaminya berhubungan kembali dengan mantan istrinya terdahulu.Dan dia akhirnya memutuskan untuk pindah kesurabaya dan meninggalkan anaknya kepada mantan suaminya agar anaknya dapat melanjutkan pendidikan selain itu karena ia mendengar bahwa mantan suaminya tersebut akan kembali menikah dengan mantan istrinya.
E.Single Life
            Dalam artikel tersebut tertera pada kalimat “Suami dan anak-anak akan menempati rumah ini, saya yang akan kembali ke rumah orang tua saya. Saya dulu datang tidak membawa apa-apa dan akan kembali kepada orang tua seperti semula. Anak-anak saya biarkan ikut ayahnya agar tetap bisa melanjutkan sekolahnya.”Dan pada akhirnya wanita tersebut pun pulang kerumah orang tuanya seorang diri tanpa membawa anak-anaknya.Dan ia pun kembali hidup sendiri tanpa adanya suami ataupun anak lagi.

Nama : Ajeng Cintiya Yudhasara
Kelas : 2PA02
NPM : 10511488

Penyesuian Diri dan Pertumbuhan


Konsep Penyesuaian Diri

Makna akhir dari hasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauh mana hal yang telah dipelajari dapat membantunya dalam penyesuaian diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri, kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang sempurna dapat terjadi jika manusia / individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme / individu berjalan normal. Namun, penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi sehat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.

Pengertian Penyesuaian Diri

Apakah Penyesuaian diri itu? 
Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut  dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu  yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan.

Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai berikut : 
  1. Penyesuaian berarti adaptasi; dapat mempertahankan eksistensinya, atau bisa  survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
  2. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip.
  3. Penyesuaian dapat diartikan sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon – respon sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan dan frustasi-frustasi secara efisien. Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang adekkuatt/ memnuhi syarat.
  4. Penyesuaian dapat diartikan penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positifmemiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungan.

PERTUMBUHAN PERSONAL

Manusia  merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.

Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.

Setiap individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah  hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam  masyarakat yang memiliki suatu  norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.

Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu:

Faktor genetik

·         Faktor keturunan — masa konsepsi
·         Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan
·         Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen
·         Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.

Faktor eksternal / lingkungan

·         Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan
·         Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya 

Dari semua faktor-faktor  di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

a. Aliran asosiasi
perubahan terhadap seseorang secara bertahap karena pengaruh dan pengalaman atau empiri (kenyataan) luar, melalui panca indera yang menimbulkan sensasiton (perasaan) maupun pengalaman mengenai keadaan batin sendiri yang menimbulkan reflektion.

b. Psikologi gestalt
pertumbuhan adalah proses  perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal sesuatu secara keseluruhan, baru kemudian mengenal bagian-bagian dari lingkungan yang ada.

c. Aliran sosiologi
Pertumbuhan adalah proses sosialisasi yaitu proses perubahan dari sifat yang semula asosial maupun sosial kemudian tahap demi tahap disosialisasikan. Pertumbuhan individu sangat penting untuk dijaga dari sejak lahir agar bisa tumbuh menjadi individu yang baik dan berguna untuk sesamanya.

Contoh : Saat seorang mahasiswa mengalami masalah mengenai penurunan nilainya. Maka ia akan berusaha untuk mengurangi beban pikirannya, misalnya dengan malakukan hobinya contohnya dengan bermain bola.


B. Menjelaskan beberapa konsep yang berkaitan dengan pertumbuhan personal :

- Penekanan pertumbuhan, penyesuain diri dan pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dariproses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal padaanak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikansebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secaraberkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatifyang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.

- Variasi dalam pertumbuhan
Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya.

- Kondisi-kondisi untuk bertumbuh
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sisitem saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku, dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya.

Daftar Pustaka :
Basuki,Heru.(2008).Psikologi Umum.Jakarta:Universitas Gunadarma

Nama : Ajeng Cintiya Yudhasara
Kelas : 2PA02
NPM  : 10511488